Kamis, 24 September 2020

 

Biografi Pangeran Diponegoro

Ajat Sudrajat dalam jurnal ilmiah berjudul “Perang Diponegoro: Antara Gerakan Mahdisme dan Mistisme Islam” (Cakrawala Pendidikan, No. 1, Th XVII, Pebruari 1998: 150), menyebutkan Pangeran Diponegoro lahir di Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 Nopember 1785. Tepat sebelum matahari terbit Jum’at Wage 7 Muharram 1200 H.

Diponegoro adalah putera sulung Hamengku Buwana III dari istri selirnya yang bernama R. A Mangkarawati. Semasa kecil Diponegoro bernama Raden Mas Antawirya, namun setelah ia dewasa berganti nama menjadi Pangeran Diponegoro. Hal ini dilakukan sebagaimana tradisi di Keraton karena Diponegoro adalah putra sulung raja.


Adapun pada masa kanak-kanak dan remaja, Diponegoro banyak menghabiskan waktunya di luar istana, yaitu di desa Tegalrejo. Di bawah asuhan Ratu Ageng, istri Sri Sultan Hamengkubuwono I yang terkenal agamis, Pangeran Diponegoro mendapatkan pendidikan yang amat baik.

Hal ini pula yang menyebabkan Diponegoro mudah bergaul dengan siapapun dan dari berbagai kalangan apapun, akan tetapi ia sering bergaul dengan para santri dan ulama di sekitar Keraton.

Perwatakan ini yang membuat Pangeran Diponegoro dianggap sebagai tokoh bangsawan yang rendah hati kepada seluruh rakyatnya. Hal inilah yang membuat berbagai kalangan tak sungkan bergaul dengan putera raja yang baik dan dikenal dermawan ini.

Hal serupa diungkapkan oleh Peter Carey dalam bukunya yang berjudul “Asal-usul Perang Jawa: Pemberontakan Sepoy dan Lukisan Raden Shaleh” (1986: 42).

Carey menjelaskan bahwa kebiasan Pangeran Diponegoro berbeda dengan para bangsawan muda di Keraton Yogyakarta, Pangeran Diponegoro jarang sekali muncul di istana.

Ia hanya hadir ke Istana pada saat acara grebeg atau upacara perayaan Islam yang sering dilakukan kerajaan Mataram dari tahun ke tahun.

Perang Diponegoro Disebabkan oleh Modernisasi Belanda

Sejak Pangeran Diponegoro dewasa, dan mewarisi kekuasaan Hamengkubuwono III di daerah Tegalrejo, ia semakin memperhatikan perpolitikan keraton di bawah komando ayahnya itu.

Menurut Ajat Sudrajat (1998: 153), Pangeran Diponegoro mulai terlibat politik langsung di Keraton Kasultanan Yogyakarta sejak masa pemerintahan ayahnya Hamengkubuwono III.

  Biografi Pangeran Diponegoro Ajat Sudrajat dalam jurnal ilmiah berjudul  “Perang Diponegoro: Antara Gerakan Mahdisme dan Mistisme Islam”  ...